Bahasa Indonesia: Paradoks, Ironi dan Unifikasi

Manakala Oktober menyapa kita, tiba-tiba atmosfer di sekeliling kita menjadi “lebih Indonesia”. Mulai dari seminar tentang bahasa Indonesia, lomba lisan dan tulisan, hingga pengkajian tentang fenomena bahasa Indonesia yang tak bisa lepas dari unsur politis saat penahbisannya sebagai bahasa nasional.

Kendati demikian, setidaknya, ada empat permasalahan yang selalu mengemuka. Pertama, pembelaan terhadap bahasa Indonesia yang dilakukan oleh warga Indonesia tidak serta merta patut mendapatkan apresiasi. Pasalnya, mereka masih menggunakan bahasa asing dalam pembacaan pledoinya. Ini seperti membela rakyat, namun dengan memerasnya.

Kedua, sebagai penutur asli, kebanyakan masyarakat malah lebih nyaman memakai bahasa asing dalam proses komunikasi. Entah itu campuran atau berbahasa asing penuh, namun –dalam istilah Alif Danya Musyi– kekenesan berbahasa ini terjadi di komunikasi lisan maupun tulisan.

Ketiga, penutur yang berusia muda juga “memperburuk keadaan” dengan membuat ragam bahasa lain, yang kaidahnya jauh melenceng dari bahasa Indonesia yang formal. Alay, begitulah sebutannya. Dan keempat, sebagai warga negara Indonesia, mereka diharuskan untuk mempertahankan, setidaknya, dua bahasa yang sama sekali berbeda. Bahasa daerah sebagai bahasa ibu, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Kompleksitas dan dilema yang dihadapi oleh penutur asli tersebut, jika tidak ditangani secara baik, maka salah satu atau dua bahasa –daerah dan Indonesia– akan punah, karena tidak ada yang menggunakannya lagi. Seperti bahasa Kawi dan Sanskrta yang pernah ada di Indonesia. Continue reading

Menaja Kembali Spirit Abangan

Menelusuri Jejak

Beberapa waktu yang lalu, dunia diguncang dengan kekejaman Ad-Dawlah al-Islamiyyah fi al-‘Iraq wa asy-Syam atau yang lebih dikenal dengan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) –dan sekarang diperpendek menjadi Islamic State (IS). Seperti gerakan kelompok formalisasi syari’at yang lain, salah satu agenda utama mereka adalah mendirikan negara Islam berbentuk khilafah. Mereka juga mempunyai kecenderungan yang sama, yaitu membuat dikotomi dengan kelompok Islam lain: ISIS benar, lainnya salah. Bedanya, untuk mewujudkan visinya, ISIS bertindak lebih brutal. ISIS tak segan-segan untuk membantai, bahkan kepada perempuan, kaum papa dan anak-anak.

Sebenarnya, jika dirunut sejarah Islam, sejak dulu telah ada gerakan kelompok serupa. Misalnya sekte Khawarij yang selain menolak keputusan Khalifah Ali untuk tahkim, diduga, sekte ini juga yang mendalangi pembunuhan sang Khalifah. Dengan berargumen, hukum yang benar adalah Qur`an, mereka kemudian melegalkan pembunuhannya (Nur Rosidah, 2012: 3). Dalam masanya, Khawarij menjadi lembaga inkuisisi yang sadis, sebagaimana yang terjadi di gereja pada abad pertengahan. Continue reading

Menggugat Seragam

Apa yang sering dikerjakan oleh pendidikan? Dibendungnya aliran sungai yang berkelok-kelok”, Henry David Thoreau, 1850 (Paulo Freire, Ivan Illich dkk.: 2009, 462). Rasanya, tepat sekali apa yang telah dinubuatkan oleh Thoreau ratusan tahun yang lalu. Pendidikan, yang kemudian (identik) diejawantahkan dalam bentuk sekolah, telah memenjarakan daya imajinasi anak (yang diumpamakan dengan aliran sungai), sehingga “produk” yang dihasilkannya cenderung “trend-follower”, tidak lagi inovatif. Sekolah telah membatasi kebenaran dalam satu jawaban benar atau pewarnaan yang dominan. Apa maksudnya? Inilah yang penulis sebut “seragam”.

Secara bahasa, “seragam” adalah derivasi dari “ragam” yang bermakna “corak” atau “macam”. Jika kemudian ditambah dengan awalan “se-“, maka bermakna “unifikasi” atau “penyatuan macam”. Jadi, ide dasar “seragam” adalah pembungkaman narasi-narasi alternatif, karena ia dilandasi oleh sifat otoriter. Secara sekilas, pernyataan ini bertentangan dengan sosio-psikologis warga sekolah. Bukankah komposisi penduduknya ditopang oleh heterogenitas? Untuk menjawabnya, mari kita kupas term “seragam” ini. Continue reading