Perempuan, Alam dan Kedaulatan

Judul              : Ekofeminisme II: Narasi Iman, Mitos, Air & Tanah

Editor             : Dewi Candraningrum

Penerbit        : Jalasutra, Yogyakarta

Cetakan         : I, 2014

Tebal             : xii + 332 halaman

ISBN               : 978-602-8252-91-1

Harga             : Rp65.800

Perempuan-perempuan petani menghadang puluhan kesatuan Polisi, Brimob, preman dan pemilik modal di pegunungan karst Kendeng, Rembang (27/11/2014). Terjadi baku hantam yang tidak seimbang. Beberapa perempuan mendapat bogem mentah dan pukulan dari kelompok “pro investasi” tersebut. Umpatan, tangisan dan perempuan pingsan adalah peristiwa yang biasa pada waktu itu. Pertanyaannya kemudian, di manakah laki-laki?

Sebulan sebelumnya, sekelompok orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), mengadakan acara “Rembug Kendeng untuk Indonesia”. Mereka membahas tentang perkembangan Kendeng, yang kekayaan alamnya selalu diincar oleh pabrik semen.

Masyarakat menghadapi dilema, antara mempersilakan pabrik untuk mengolah karst, yang tentunya membuka lapangan kerja bagi penduduk sekitar; atau menolak keberadaan mereka atas dasar perusakan lingkungan, dan sumber air. Pertanyaannya kemudian, mengapa hanya perempuan petani berusia paruh renta yang menjadi garda depan dalam pembelaan tanahnya?

Continue reading

Membincang Filsafat Profetik ala Syi’ah

Judul              : Revelation and Prophethood (Falsafah Kenabian: Monoteisme Teoretis dan Praktis yang Bersifat Individu dan Sosial)

Penulis          : Ayatullah Murtadha Muthahhari

Penerjemah : Andayani

Penerbit        : Rausyan Fikr Institute, Yogyakarta

Cetakan         : I, Maret 2014

Tebal             : 149 halaman

ISBN               : 978-602-1602-09-6

Harga             : Rp35.000

Dalam sebuah simposium bertajuk “Sosok dan Perspektif Filsafat Islam” tahun 1991, Amin Abdullah menyampaikan pemikirannya yang dituangkan dalam tulisan dengan judul “Aspek Epistemologis Filsafat Islam”. Menurutnya, term “Filsafat Islam” masih agak janggal dalam konstelasi filsafat. Karena pelabelan “Islam” seakan-akan menyiratkan bahwa terdapat filsafat yang bercorak Islam dan bersifat otonom, sebagaimana filsafat Yunani. Padahal, dalam kenyataannya, filsafat “Islam” adalah “hasil” dialektika, asimilasi dan akulturasi tradisi “Islam” dengan filsafat Yunani pada masa itu, yaitu era Dinasti Abbasiyah. Continue reading

Perempuan dan Belenggu Hari Ibu

Hari Ibu telah lama berlalu. Perayaan yang ditetapkan oleh Presiden Sukarno melalui Dektrit Presiden nomor 316 tahun 1959 itu, didasarkan pada Kongres Perempuan Pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta (Susan Blackburn, 2007: xviii), di gedung yang kemudian dikenal dengan Mandala Bhakti Wanitatama.

Untuk memperingati peristiwa penting ini, berbagai kegiatan diadakan oleh masyarakat. Mulai pesta kejutan untuk ibu, lomba memasak dan aneka acara lainnya. Satu hal yang mencolok dalam ajang tahunan ini adalah adanya pengambil-alihan (sementara) fungsi ibu dalam lingkup domestik oleh anggota keluarga lain.

Jika dicermati, ada dua hal yang mengganjal dari Hari Ibu tersebut. Pertama, terdapat simplifikasi yang dilakukan oleh Presiden Sukarno. Jika peserta kongres tersebut adalah perempuan, mengapa ditahbiskan menjadi Hari Ibu? Bukan Hari Perempuan? Kedua, apakah tugas ibu hanya berkutat pada domain domestik?

Continue reading