Malam Absurd Para Pujangga

Suatu malam, Imru’ul Qais, tetangga kamar yang berasal dari Nejd, main ke flatku. Udara panas, 39 derajat, membuat kami malas keluar untuk sekedar bertegur sapa dengan gemintang.

Layaknya kawan yang usil, dia buka-buka hapeku. Entah bagaimana caranya, dia bisa membobol password yang aku gunakan untuk mengunci folder penting: pesan, catatan, dan tentu saja, foto-foto.

Dan tiba-tiba, dia bersajak sambil memasang muka stalker-nya yang penuh ejekan:

قفا نبك من ذكرى حبيب ومنزل * بسقط اللوى بين الدخول فحومل

Ojo ngenes terus, Cuk! Kekasih khayal karo omahmu adoh teko kene!”. Continue reading

Sawang Sinawang dalam Makanan

Jika kalian mendapatkan kesempatan plesir ke luar negeri, selain destinasi wisata, arena hiburan dan taman kota yang penuh dengan bunga-bunga –dalam arti haqiqi, bukan majazi–, makanan khas adalah satu hal yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Berbagai keunikan tata boga dan komposisi makanan merupakan daya tarik tersendiri bagi turis. Kendati beberapa jenis makanan tersebut bisa didapatkan dengan mudah di Indonesia, tapi, mencicipinya di negeri kelahirannya, akan memberikan pengalaman yang mungkin tak akan terlupakan. Continue reading

Tentang Pati dan Arab Saudi

Awalnya, saya mau nulis tentang Pati. Kota besar dengan gaung nama-nama orang besar juga, tapi sepi. Kok iso? Karena sebagian besar mereka yang sukses di tanah rantau: sebut saja Pak Amin Abdullah, mantan rektor UIN Sunan Kalijaga, yang organisasi mahasiswanya sukses menayangkan film “Senyap” walau dikepung kelompok berserban; atau Gus Ulil Abshar Abdalla yang menjadi punggawa JIL, namun kemudian “banting stir” menjadi politisi Demokrat; atau Zastrouw Ngatawi, yang dulunya menjadi orang dekat Gus Dur; dan sederet nama agung lainnya, wegah kembali ke Pati.

Ndak ada yang bisa dikerjakan di Pati, Mas. Kalaupun ada, ndak cucok dengan usaha kita”, jelas seorang dosen yang juga dari Pati.

Continue reading