Filsafat Politik dalam Abad Ketidakpastian

Judul              : Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21

Penulis            : Budiono Kusumohamidjojo

Penerbit          : Jalasutra, Yogyakarta

Cetakan          : I, 2015

Tebal              : xxiv + 444 halaman

ISBN               : 978-602-8252-90-4

Pada 2007, Vaclav Klaus, Presiden kedua Republik Ceko, menerbitkan buku yang cukup kontroversial, Modrá, Nikoli Zelená Planeta, atau –ketika diterbitkan di Indonesia menjadi– Kebebasan dan Politik Perubahan Iklim. Dikatakan kontroversial karena karya Vaclav tersebut bertentangan dengan pendapat umum. Dengan menyodorkan beragam data, Vaclav membuktikan bahwa agenda penyelamatan bumi dari global warming hanya alat tunggangan politisi untuk mendapatkan kucuran dana.

Pengantar di atas hanyalah salah satu kasus yang kontradiktif. Masih banyak perkara lain yang memungkinkan benar dari dua sisi yang berlawanan. Semisal Hak Asasi Manusia (HAM) dalam bingkai universalisme dan relativisme hingga perang untuk perdamaian.

Pertanyaan yang mengemuka kemudian, “Bagaimana masa depan dunia yang penuh dengan kontradiksi-kontradiksi? Mampukah manusia menjalaninya?”.

Berdasar dari kegelisahan tersebut, Budiono Kusumohamidjojo “mengajukan tawaran” berupa Filsafat Politik. Mengapa filsafat? Bukankah filsafat hanyalah sekumpulan “percakapan” yang melangit? Dan mengapa pula politik? Bukankah itu hanya –mengutip Groucho Marx–, “…the art of looking for trouble, finding it everywhere, diagnosing it correctly and applying the wrong remedies…”?.

Inilah “tugas” Budiono. Sebagaimana judulnya, Filsafat Politik dan Kontak Pandora Abad ke-21, selain mengantarkan pembaca untuk memahami filsafat, politik dan sekaligus keduanya tanpa ada prasangka, penulis juga akan memetakan kontradiksi-kontradiksi dunia serta kritik untuknya.

Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21

Budiono mengawali perbincangannya dengan membuat “pledoi” untuk filsafat dan politik. Memang benar, filsafat tidak memberikan segudang solusi untuk permasalahan. Akan tetapi –tulisnya–, filsafat membantu setiap generasi baru untuk sendiri menghadapi masalah-masalahnya (hlm. 2).

Kemudian, ketika berbicara politik, masyarakat seringkali terjebak pada perilaku seseorang dalam pemerintahan sipil, korupsi misalnya. Padahal, politik juga mencakup segala interaksi kelompok manusia, termasuk lembaga-lembaga korporasi, akademik dan keagamaan (hlm. 9). Pada titik ini, pernyataan Demokritos terdengar masuk akal, “ta megala kai lampra”, (seni politik itu mengajarkan manusia bagaimana caranya menggelar apa yang hebat dan cemerlang).

Lalu, alasan filsafat politik menjadi salah satu cara untuk menghadapi dunia yang penuh dengan kontradiksi, adalah karena tujuan utama filsafat politik adalah melakukan evaluasi terhadap berbagai teori keadilan yang bersaing untuk memeriksa ulang kekuatan serta koherensi dari argumen-argumen yang membenarkan pandangan teori-teori itu (hlm. 14).

Tujuan ini nampak ketika filsafat politik berusaha membedah dan “menengahi” keadilan, yang di satu sisi diratifikasi oleh organisasi dunia yang bersifat universal, namun di sisi lain ia diikat oleh budaya setempat yang bersifat komunal. Contoh kasusnya adalah pertentangan antara Committee on the Elimination of Discrimination against Women (CEDAW) dan tradisi lokal mengenai khitan perempuan (female genital mutilation) (hlm. 314).

Selanjutnya, tugas kedua Budiono adalah memetakan dan mengkritik berbagai kontradiksi di dunia. Ada banyak tema yang dibahas oleh Budiono secara mendalam, di antaranya adalah akhir dari ideologi dan tata dunia selanjutnya.

Dalam subbab ‘Akhir dari Ideologi’ –sebelumnya Budiono membahas ideologi-ideologi penting dunia, termasuk juga Pancasila–, penulis berseberangan pendapat dengan Daniel Bell, penulis The End of Ideology. Menurut Budiono, dalam menghadapi globalisasi, ideologi-ideologi besar tidak akan pernah mati –sebagaimana pendapat Bell–, akan tetapi beradaptasi dengan pragmatisme keadaan agar mampu menjawab pertanyaan dan kebutuhan masyarakat (hlm. 233).

Berbicara ‘Akhir dari Ideologi’, dalam artikelnya “The End of History?”, Francis Fukuyama, ilmuwan politik Amerika, meramalkan bahwa pada akhirnya ideologi terakhir yang bertahan adalah demokrasi liberal “buatan” Barat. Menurutnya, “…the end point of mankind’s ideological evolution and the universalization of Western liberal democracy as the final form of human government…”. Walaupun terkesan propagandistis, namun setidaknya itulah hasil pembacaan Fukuyama atas realitas dunia.

Kemudian, ketika membincang ‘Tata Dunia Selanjutnya’, Budiono tidak terjebak dalam teori konspirasi yang berkembang dalam masyarakat: Freemasonry dan Illuminati, misalnya. Namun ia berpijak pada perkembangan negara-negara, sembari “membaca” dialektika sejarah Hegel (hlm. 393). Menurut Budiono, tuntutan-tuntutan khas negara Barat: hormat pada HAM –atau lebih tepatnya universalisme HAM– dan kebebasan berpendapat; akan berdampingan dengan tuntutan dari kekuatan-kekuatan baru: emansipasi politik dan ekonomi dan hak untuk hidup lebih baik.

Pada akhirnya, kehidupan manusia pada abad ke-21 tak “sesederhana” tesis Edward W. Said dalam Orientalism, begitu juga tesis Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilizations. Alasannya, konstelasi dunia tidak lagi berpusat di Barat. Dan karya Budiono ini menjadi penting untuk dibaca, selain untuk membersihkan nalar pembaca dari prasangka terhadap politik, tapi juga mengantarkannya untuk memahami kontradiksi-kontradiksi dunia sekaligus mencari solusi untuk permasalahan tersebut.

Sumber gambar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s