Malam Absurd Para Pujangga 3

Aku masih memikirkan dawuh guru al-Adab al-‘Arabiy, Ust. Abu al-Faraj al-Jauziy. Dawuh itu begitu menenangkan sekaligus menyindir sisi hatiku yang dalam.

Masih segar dalam ingatanku, saat pelajaran berlangsung, sambil menenteng kitab karangannya, Dzam al-Hawa (Celaan untuk Cinta), beliau mengkritik ungkapan cinta Qais Majnun yang ditujukan kepada Laila. Menurutnya, kerinduan kepada seseorang secara berlebih, dapat mengantarkan perindu pada kekafiran. Dengan dikutipnya banyak hadis, beliau menghakimi kerancuan rindu Qais.

Saat itu aku lihat wajah Qais merah padam. Entah apakah ia marah pada Ust. Al-Jauzi atas ejekannya atau malah kerinduannya pada Laila semakin bertambah. Duhai, pernahkah engkau menemukan perindu berpaling dari yang dirindunya? Continue reading

Fikih Revolusi: Legitimasi Gulingkan Rezim Tirani

Judul Buku: Fiqh ats-Tsaurah: Muraja’at fi al-Fiqh as-Siyasiy al-Islamiy
(Fikih Revolusi: Telaah atas Fikih-Politik-Islam)
Penulis: Ahmad ar-Raisuniy
Penerbit: Dar al-Kalimah, Kairo-Mesir
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 116 halaman

Sebelum Tsaurah 25 Yanayir (Revolusi 25 Januari) mencapai puncaknya–-yaitu ketika Hosni Mubarak turun dari kursi kepresidenan pada 11 Februari 2011– tercatat manuver politis yang dilakukan oleh ulama[1] untuk mempertahankan[2] status quo[3]: larangan demonstrasi dan protes, dan perintah untuk patuh kepada waliy al-amr yang pada saat itu dipegang oleh Hosni Mubarak. Kendati demikian, revolusi sudah tidak dapat dihindari lagi. Maka, dengan kebulatan tekad yang sama, mereka meneriakkan mantra Tunisia yang masyhur: “Asy-Sya’b yurid isqath an-nizham!” (Rakyat menuntut lengsernya rezim!). Dan akhirnya, Hosni Mubarak dan kroni-kroninya hengkang dari istana, sedangkan para pemberontak menguasai infrastruktur negara. Continue reading

Where Do We Go Now?: Para Perempuan Pengubur Senjata

Laughter and tears are both responses to frustration and exhaustion. I myself prefer to laugh, since there is less cleaning to do afterward.

—Kurt Vonnegut

Sebuah masyarakat dengan berbagai kesusahan dan kesedihan yang tak berujung, tidak serta-merta berbanding lurus dengan selera humor mereka. Karena perang yang tak kunjung usai, pejabat yang korup, subordinasi, dan diskriminasi ras bisa menjadi menu andalan dalam guyonan mereka. Kibulan mereka bukan sekedar tetek bengek tak jelas seputar dapur atau bon warung yang tak kunjung lunas. Wilayah komedi mereka adalah ras, agama, dan negara yang totaliter. Komedi mereka ‘cadas’, namun bukan sekedar olok-olok dan lempar tepung. Prinsip mereka, seperti yang pernah diungkapkan Charlie Chaplin, adalah “to truly laugh, you must be able to take your pain and play with it!

Pernyataan ini dapat dibuktikan, salah satunya, dengan adanya buku Mati Ketawa Cara daripada Soeharto pada 1998. Dari judulnya, kita bisa melihat sisipan ejekan yang ditujukan pada mantan presiden kita, Suharto—kita semua tahu bahwa selain “semangkin”, “daripada” adalah kata yang kerap ia ucapkan. Sampulnya bergambar arca Soeharto yang duduk di atas sepatu lars dan ornamen bertuliskan “Penguasa Sampai Mampus”, dengan para hamba yang menyembah-nyembah di bawahnya dan kepulan asap kemenyan di depan mereka. Bisa dibayangkan, pada masa itu, sang Prabu masih berkuasa di tanah Nusantara. Meski demikian, “Rakyat Indonesia yang di tengah tekanan dan penderitaannya masih bisa berhumor-ria”, tulis penerbit. Continue reading