Bayi Itu Sederhana, Yang Rumit Hanyalah Tafsirannya

Bagi saya pribadi, ngerumat anak yang masih bayi tak ubahnya bagai menafsirkan Alquran. Sebab sebagaimana mufassir yang tidak mengetahui makna hakiki yang terkandung dalam Alquran, orangtua pun tidak mengetahui maksud sesungguhnya atas tangisan, rengekan dan gerak tubuh si bayi. Meskipun keduanya -bayi dan Alquran- telah memberikan tanda-tanda yang menyertai peristiwa mereka. Contohnya adalah bayi menangis dengan wajah dan kepala yang memerah, atau ayat mengenai perintah genosida atas kaum musyrik di manapun mereka hingga mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat (At-Taubah: 5).

Jika peristiwa pertama kita tafsirkan maka akan muncul banyak kemungkinan mengenai sebab tangisan bayi. Di antaranya: ia pengen nyusu, atau ia sedang mengejan, atau ia merasa gerah, atau ada semut yang menggigit tubuhnya dst. Jika demikian, maka orangtua hanya bisa menduga-duga lalu mencoba-coba hasil tafsirannya. Kalau masih saja menangis, biasanya si bayi akan berakhir di gendongan dan butuh beberapa jam untuk menenangkannya. Continue reading