Five Little Ducks: Lagu Anak Tentang Kombinasi Orang Tua Pengabai dan Anak Ceroboh

Hal yang menakutkan bagi anak sekaligus membuat gugup ibu adalah ketika mereka terpisah di suatu tempat yang jarak antara mereka sangat berjauhan. Semakin menambah drama apabila anak tersebut masih di bawah kisaran 10 tahun dan jumlah mereka cukup banyak, 5 anak, semisal.

Perkara ketakutan sekaligus gugup itu muncul jika dua pihak tadi normal. Jika tidak normal, si ibu masih merasa riang meski ia telah kehilangan 4 anaknya. Dan ia baru merasa sedih-yang seharusnya sudah ia lakukan sebelumnya-ketika ia menyadari tak ada lagi anak yang menghampirinya saat dipanggil. Padahal kalau ibu tadi cukup perhatian, ia bisa tahu bahwa anaknya hilang satu persatu.

Di sisi lain, bagi anak, kehilangan jejak ibu dan saudara-saudaranya di sebuah bukit nan jauh, seharusnya menjadi momok tersendiri baginya. Sebab ia bisa saja bertemu penculik atau lebih gawat lagi jika ia menjadi incaran pemangsa.

Prolog di atas bukanlah sinopsis atau cuplikan dari film maupun buku bergenre thriller. Namun ia adalah komentar atas sebuah video lagu anak yang berjudul Five Little Ducks.

Menjadi orang tua dari generasi Y atau milenial adalah menjadi seseorang yang akrab dan mengakrabkan anaknya dengan gawai. Awalnya mungkin dilematis. Tapi jika anda adalah bapak rumah tangga full time dengan pengalaman minim dalam mengasuh bayi, sedang istri anda, yang notabene sumber ASI dan kenyamanan bayi, sibuk berkutat dengan dunia perkuliahan, dan kalian berada jauh dari keluarga sebab merantau, maka membuka Youtube adalah solusi jitu untuk meredakan tangis anak, atau mendistraksinya agar mau makan, setelah anda tak berhasil membujuknya meski telah menggendongnya lama

Anak saya baru berumur 13 bulan, jadi saya tak perlu memasang Youtube Kids. Saya sendirilah yang menjadi filter konten untuknya, dan saya sendiri juga yang menerapkan batasan berapa lama ia akan menghadapi gawai.

Biasanya konten yang saya putarkan untuknya adalah video lagu-lagu, baik bahasa Indonesia maupun Inggris. Selain bisa membuatnya tenang dan senang, saya kira video lagu juga bisa membantunya dalam mengenali warna dan suara.

Nah, salah satu video yang pernah diputar adalah lagu Five Little Ducks (FLD). Anak saya senang melihat tingkah lucu dan warna bebek. Sebagaimana lagu rakyat lain, FLD juga mempunyai banyak varian lirik. Untuk mempersempit penulisan ini, saya hanya mengambil 3 sampel dari kanal LooLoo Kids yang berslogan Nursery Rhymes and Children’s Songs, Super Simple Songs dengan tagline Kids Songs, dan Cocomelon dengan Nursery Rhymes-nya. Pemilihan 3 kanal ini berdasarkan hasil pencarian di Youtube dengan kata kunci ‘five little ducks’ untuk kategori peringkat.

Pembaca mungkin sudah tahu bagaimana alur dan isinya. Sebagaimana prolog sebelumnya, lagu ini mengisahkan tamasya ibu bebek dan 5 anaknya. Kanal LooLoo Kids dan Cocomelon memberitakan tamasya tersebut dengan pergi berenang (went swimming), sedang para bebek di Super Simple Songs hanya diberitakan pergi keluar (went out). Kesamaannya adalah mereka pergi jauh hingga melintasi bukit (over the hill and far away).

Sampai sini tidak ada peristiwa penting hingga ketika si ibu memanggil anak-anaknya. Dari 5 anak bebek, berkurang menjadi 4 bebek, dan begitu seterusnya hingga tak ada anak bebek yang kembali. Persoalan menjadi rumit sebab induk bebek tadi tak tahu, atau bahkan bisa jadi tak mau tahu berapa anak yang kembali padanya. Ia enteng saja mengajak anak-anak yang tersisa untuk pergi berenang atau sekedar keluar melintasi bukit. Dan ironisnya, ia baru bersedih setelah semua anaknya hilang.

Meski demikian, rasanya tidak adil jika hanya menimpakan kesalahan kepada sang ibu. Entah karena si ibu adalah orang tua tunggal atau ia mengalami domestikasi perempuan-di LooLoo Kids terlihat kehadiran ayah bebek dari bepergian dan panggilannya langsung diamini oleh anak-anak-, namun kita sendiri bisa menyadari betapa beratnya mengasuh 5 anak seorang diri. Apalagi jika mereka bandelnya bukan main.

Di Super Simple Songs, kandidat anak bebek yang tidak pulang saat dipanggil, pura-pura kaget ketika saudaranya tidak muncul. Atau, meskipun ia betul-betul kaget, tidak selayaknya ia ikut menghilang begitu saja. Selain kasus terdebut, anak terakhir yang akan menghilang, menolehkan wajahnya sesaat kepada ibunya sebelum pergi. Jika mimik wajahnya diamati dengan cermat, anak tadi tidak bermaksud berpamitan baik-baik dengan ibunya. Namun sebaliknya ia justru memasang wajah mengejek.

 

o0o

Seperti lagu-lagu anak lain, FLD juga menciptakan ruang belajar sekaligus bermain. Premis FLD sederhana: menghilangnya anak-anak bebek sama dengan operasi pengurangan. Jadi ia mengajari anak berhitung hingga angka 5. Namun, seperti lagu berhitung lain, semisal Five Little Monkeys (FLM)  dan Ten in the Bed (TITB), FLD juga tidak menyisipkan nilai-nilai moral di dalam liriknya. Jika FLD tentang orang tua pengabai dan anak ceroboh, FLM menceritakan anak bandel yang tak belajar dari kesalahan saudaranya, sedang TITB malah menjadi pleidoi bagi anak bungsu atau kecil untuk bersikap egois terhadap saudara atau temannya yang lebih tua. Meski demikian, tidak semua lagu anak berbahasa Inggris tentang berhitung, jelek. Ada beberapa lagu yang bagus, karena di samping berhitung, ia juga mengenalkan anak kosakata yang berima. Beberapa lagu yang dimaksud adalah The Bees Go Buzzing dan The Ants Go Marching.

Saya pribadi lebih mengapresiasi lagu-lagu anak Indonesia, sebab mereka masih menginternalisasikan nilai-nilai moral di dalam liriknya. Simak saja lagu Satu Satu Aku Sayang Ibu (SSASI) dan Bangun Pagi (BP). Di SSASI kita dapati lirik berhitung satu sampai tiga yang diselingi dengan ungkapan kasih sayang kepada tiap anggota keluarga. Sedang di BP lebih jauh lagi, angkanya mencapai 8 dan diiringi dengan mars penyemangat bersekolah.

o0o

Menonton FLD terkadang memunculkan pemikiran nakal dalam benak saya, “Jika dalam semesta keluarga terdapat frasa ‘anak durhaka’ yang disematkan pada anak pembangkang, apakah sebaliknya terdapat pula frasa ‘orang tua durhaka’ yang disematkan pada orang tua yang abai terhadap keadaan anaknya?”. Sejauh ini, saya belum menemukan jawabannya. Bahkan dalam kamus Bahasa Indonesia pun sifat durhaka hanya dilekatkan pada hamba dan anak. Sedang Tuhan dan orang tua beroleh kemuliaan yang setara. Tiadakah kita ingat hadis sahih yang berbunyi: “Kerelaan Allah ada pada orang tua, dan demikian pula murka-Nya”?

Jika demikian, bagaimana solusinya? Saya ndak berani jawab macam-macam. Takut kualat! Nah~

 

Sumber gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s