Adab Orang Muda, Ilmu Orang Tua

Pada sebuah persidangan yang digelar dengan riuh, setelah beberapa patah pembuka dari hakim, seorang anak yang menjadi terdakwa ditanya olehnya, “Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?”.

“Ya. Aku kecewa dengan mereka berdua”, katanya.

“Kenapa kecewa?”.

“Karena telah melahirkanku”.

Adegan di atas adalah potongan awal dari film Capernaum besutan Nadine Labaki. Zain al Hajj, si anak umur 12 tahun, kecewa dengan orang tuanya. Karena melalui mereka berdua, Zain hadir di dunia lalu dipecundangi olehnya, dan oleh mereka.

Menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga sebenarnya tak begitu masalah bagi Zain. Tapi ketika ia melihat adiknya, Sahar, dikawinkan paksa dengan Assaad ia berontak. Tak cukup lari dari rumah, ia juga kemudian membunuh Assaad–namun gagal–setelah mengetahui Sahar celaka karenanya.

Menjelma tua–dan beruban–tidak lantas membuat seseorang semakin bijaksana. Kebijaksanaan tidak datang secara otomatis seiring bertambahnya usia. Ia pula tidak hadir dengan sendirinya melalui kehidupan seseorang yang menempanya dengan keras. Kebijaksanaan, kedewasaan bertunas dan tumbuh dari perenungan dan persinggungan dengan para makhluk.

Souad dan Selim adalah sepasang suami istri yang berpendirian seperti kebanyakan kita: banyak anak, banyak rezeki. Namun rezeki yang mereka maksud berbeda. Rezeki bagi mereka adalah: anak laki-laki–sekecil apapun ia–bisa jadi kuli panggul di pasar; dan anak perempuan, ketika darah pertama menstruasi keluar, bisa jadi pengantin dengan mahar cukup besar.

Saya tidak bermaksud menghakimi kedua pasutri itu dalam menyikapi hidup mereka yang getir. Pun saya tak menyalahkan keputusan Zain untuk menuntut orang tuanya di muka pengadilan. Apa yang mereka pilih pastilah telah melalui serangkaian peristiwa-peristiwa besar yang memungkinkan seseorang mau menjual anak perempuannya kepada pedagang pasar dengan mas kawin ayam-ayam dan beberapa sak tepung; dan memungkinkan seorang anak sangat membenci kedua orang tuanya. Yang akan saya singgung di sini adalah soal adab dan ilmu.

Seorang sufi kenamaan asal Merv, Turkmenistan, Abdullah ibn Mubarak berkata, “Nahn ila qalil min al-adab ahwaj minna ila katsir min al-‘ilm”, “Kita lebih membutuhkan adab (meski) sedikit dibanding ilmu (meski) banyak”. Secara tersurat Syaikh Abdullah menempatkan posisi adab lebih tinggi daripada ilmu, meski secara kuantitas keduanya berbeda. Yang patut diperhatikan di sini adalah beliau sama sekali tidak menyinggung usia manusia mana yang beradab maupun yang berilmu. Meskipun lumrahnya semakin tambah umur seseorang, ia akan semakin beradab dan bijak.

Sayangnya tidak segampang itu. Dan nahasnya lagi, hubungan keduanya mengarah kepada penyederhanaan: pertentangan abadi orang muda yang dianggap berilmu namun tak beradab versus orang tua yang dicitrakan bijak meski tak begitu cendekia. Dalam kasus Zain, pertentangan itu semakin terang.

Sekira sebulan lalu, mojok.co menurunkan tulisan Edi AH Iyubenu yang berjudul “Akhlak Itu di Atas Ilmu, Ngapain Kamu “Minteri” Orang Tua?”. Penempatan orang tua di sini problematis, sebab menyiratkan bahwa memang sejak awal orang tua saja yang paling dan pasti benar. Selain itu, penulis juga bersikap ambigu dalam tulisannya. Jika di judul tertulis hanya orang tua yang mendapat kehormatan untuk tidak dipinteri, tapi ternyata beliau mengisahkan bagaimana penghormatan guru sepuh yang ‘alim ‘allamah kepada muridnya yang masih muda, yaitu Imam Maliki kepada Imam Syafii.

Dari tulisan Pak Edi tersebut, saya ambil satu istilah penting yang menjadi pondasi konsep adabnya: ta’dhim. Menurut saya, ber-ta’dhim kepada seseorang, terlebih ia adalah orangtua–orang yang menjadi perantara kita ada di dunia, bedakan dengan orang tua yaitu orang yang berumur senja–atau guru kita, adalah suatu keharusan. Dus, melalui orangtualah kita peroleh kesempatan untuk mengabdi kepada Sang Khaliq–wa maa khalaqt al-jinn wa al-ins illa liya’budun–, dan sebab guru kita bisa merasakan manisnya pengetahuan. Sampai sini, konsep adab tidak bermasalah.

Persoalan hadir ketika orangtua dan guru kita tidak memenuhi kualifikasi ideal. Saya tidak bermaksud menafikan perkara metafisik yang kadang khariq al’adah, nganeh-anehi. Misalnya ada kiai yang kelihatannya ndak pernah salat padahal dia menyuruh santrinya salat, dan ternyata beliau salat langsung di Masjidil Haram Mekah. Sedang raga yang nampak di hadapan masyarakat adalah emanasinya. Hanya saja, kita hidup di dunia yang justifikasinya berdasar indera. Hakim, misalnya, memutuskan perkara berdasarkan bukti-bukti yang diamati oleh indera. Itu pertama.

Kedua, semua manusia mempunyai potensi untuk lalai dan melakukan kesalahan, termasuk orangtua maupun guru. Dengan demikian, konsep ta’dhim, terutama yang kaffah, bagi saya kok ndak begitu masuk akal. Membincang poin kedua, saya sering bingung dengan ta’dhim, atau katakanlah tawaduk murid atas kealpaan seorang guru, dalam menjelaskan pelajaran, misalnya. Kalau menjaga marwah guru di depan murid-muridnya dijadikan dalih untuk tidak perlu menunjukkan kelalaian guru, lalu apakah terus menemuinya secara pribadi diperbolehkan? Ataukah penundaan kebenaran yang tepat dijadikan pertimbangan? Pertanyaannya, sampai kapan kebenaran itu ditunda? Apakah menunggu sampai kebohongan yang diproduksi terus menerus tadi berubah menjadi kebenaran, lalu dengan gupuh baru ada koreksi di kemudian hari?

Dan, ngapunten, bukankah Kanjeng Nabi pernah ngendikan kepada sahabat beliau yang dikenal bloko-suto, yakni Abu Dzar al-Ghifari, “Wa amarani an aqul al-haqq wa in kaan murra”, “Dan beliau mengutusku untuk berkata benar meski menyakitkan”?

Alasan terakhir, konsep adab yang digembar-gemborkan selama ini berjalan satu arah. Ia bagaikan monolog yang dipentaskan orang-orang tua dengan orang-orang muda sebagai penontonnya. Satu contoh berbahaya penerapan pedoman secara monolog adalah implementasi hadis “Man kan yu`min bi Allah wa al-yaum al-akhir falyukrim dhaifah, “Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir harus memuliakan tamunya”. Apa yang akan terjadi jika tamu yang menjadikan hadis ini legitimasi pemuliaan untuk dirinya? Pastinya tuan rumah akan terseok-seok mengikuti kemauan sang tamu. Cerita akan berbeda jika hadis itu diaplikasikan secara dialogis. Tuan rumah berusaha menjamu tamunya sesuai kemampuannya, dan sang tamu pun menghormati usahanya.

Adalah suatu revolusi jika konsep dialog ini terapkan pula di adab. Orang muda berkewajiban menghormati yang lebih tua, sebaliknya pula orang tua berusaha menjadi pribadi yang ideal (uswah hasanah) bagi mereka. Orang muda mempunyai keberanian untuk mengungkapkan pendapatnya tentang dan kepada orang tua tanpa ada ketakutan kuwalat, sebaliknya orang tua pun terbuka untuk menerimanya dengan legawa dan bahkan mengajak orang muda bertukar pikiran. Jadi, pada akhirnya, polemik tentang adab dan ilmu sebenarnya melupakan inti masalah: keterbukaan berpendapat.

Kembali ke kasus Zain, bayangkan apa yang terjadi jika ia–dan anak-anak lain–ber-ta’dhim kaffah kepada orangtuanya, terutama yang memiliki kepribadian uswah sayyi`ah. Saya yakin akan muncul Sahar-Sahar dan Zain-Zain lain.

Sebenarnya tulisan pendek ini hanyalah pelampiasan terselubung atas ketidakmampuan saya berterus terang kepada orangtua mengenai aman tidaknya, boleh tidaknya anak saya yang masih berumur 14 bulan memakai kaos dalam. Seperti kebanyakan sesepuh, orangtua saya berkeyakinan pemakaian kaos dua lapis akan melindungi organ dalam bayi yang masih rapuh. Pasalnya anak saya ini aktifnya minta ampun. Jadi dia lebih sering berkeringat. Terlebih kami juga tinggal di daerah Pantura yang lebih sering bercuaca panas daripada dingin. Saya tak tega melihatnya tersiksa hanya karena kaus singlet. Dus, banyak dokter anak pun tidak merekomendasikan kaus dalam dengan alasan yang sama. Lengahnya saya, embahnya anak saya tiba-tiba membelikan beberapa kaus, dan langsung memakaikannya pada anak saya. Akhirnya dengan agak jengkel dan dongkol, saya bisiki anak saya, “Jadilah kuat, Le, dengan atau tanpa singlet!”.

 

Sumber gambar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s