Mikraj Idul Fitri

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Orang yang berpuasa mendapatkan dua peristiwa yang pasti membuatnya berbahagia: ketika ifthar, dan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya” (H.R. Muslim nomor 1944).

Ada yang menafsirkan kebahagiaan pertama sebagai kegembiraan ketika azan magrib berkumandang, yaitu momen yang menjadikan  shaim terbebas dari larangan-larangan ketika berpuasa. Ada pula yang berpendapat bahwa ifthar di sini adalah ketika gema takbir membahana di malam terakhir Ramadhan. Dengan demikian, makna ifthar, yang notabene derivasi dari susunan huruf fa`-tha`-ra`, dalam hadis ini bisa bermakna “berbuka”, dan hari raya “fitri”. Adapun kebahagiaan yang kedua bagi shaim adalah ketika ia bertemu dengan Tuhannya. Continue reading