Mikraj Idul Fitri

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Orang yang berpuasa mendapatkan dua peristiwa yang pasti membuatnya berbahagia: ketika ifthar, dan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya” (H.R. Muslim nomor 1944).

Ada yang menafsirkan kebahagiaan pertama sebagai kegembiraan ketika azan magrib berkumandang, yaitu momen yang menjadikan  shaim terbebas dari larangan-larangan ketika berpuasa. Ada pula yang berpendapat bahwa ifthar di sini adalah ketika gema takbir membahana di malam terakhir Ramadhan. Dengan demikian, makna ifthar, yang notabene derivasi dari susunan huruf fa`-tha`-ra`, dalam hadis ini bisa bermakna “berbuka”, dan hari raya “fitri”. Adapun kebahagiaan yang kedua bagi shaim adalah ketika ia bertemu dengan Tuhannya.

Dalam Mirqaah al-Mafaatiih: Syarh Misykaah al-Mashaabiih, dijelaskan bahwa dua kebahagiaan ini meliputi dua dimensi: dunia dan akhirat. Dimensi dunia diwakili dengan rasa senang sebab hilangnya rasa lapar dan dahaga, atau karena mendapatkan pertolongan dari Allah sehingga mampu menyelesaikan perintah-Nya. Akan halnya kebahagiaan berpuasa dalam dimensi akhirat berupa sukacita yang diekspresikan dengan wajah yang berseri-seri (wujuuh yaumaidz nadhirah) disebabkan melihat dan bertemu Allah (ilaa Rabbihaa naazhirah) [Q.S. al-Qiyamah: 22-23].

Pendapat mualif Mirqaah al-Mafaatiih ini, tepatnya mengenai kebahagiaan berpuasa dalam dimensi akhirat, bertentangan dengan pendapat Imam Qusyairi. Imam Qusyairi meyakini bahwa melihat dan berjumpa Allah dapat terjadi ketika seseorang masih hidup di dunia, dan bukan hanya di akhirat saja. Dan caranya adalah melalui mikraj.

Disebutkan dalam Kitaab al-Mi’raaj, bahwa selain Nabi Muhammad saw., para nabi yang pernah mikraj bertemu dengan Allah adalah Nabi Idris as., Nabi Ibrahim as., Nabi Ilyas as., Nabi Musa as., dan Nabi Isa as. Bahkan, menurut beberapa ulama, “Tidak ada satupun rasul yang diutus ke bumi, kecuali ia pernah mikraj sesuai dengan kadar tingkatan mereka”.

Tidak hanya para rasul yang dimikrajkan oleh Allah, para wali Allah terpilih juga ada yang memperoleh kemuliaan tersebut. Di antara auliya` tersebut adalah  Syaikh Abu Yazid al-Busthami. Bedanya adalah, para rasul dimikrajkan dengan jasad dan ruhnya, sedangkan sebagian kalangan wali khas dimikrajkan dengan ruhaninya. Mikraj tersebut terjadi ketika mereka berada di dalam ambang kondisi sadar dan tak sadar. Dalam mikraj tersebut, hamba yang diangkat oleh Allah akan melihat keajaiban-keajaiban yang belum pernah ada di dunia.

Diceritakan dalam Kitaab al-Mi’raaj, dalam mimpinya, Syaikh Abu Yazid al-Butshami seakan-akan diangkat ke langit. Dalam peristiwa tersebut, beliau berkeinginan untuk bertemu Allah, dan “menemani-Nya” selama-lamanya. Karena keinginan itu, beliau lantas diuji oleh Allah dengan ujian yang takkan sanggup dilakukan oleh penduduk langit dan bumi. Oleh karena kemurahan Allah, beliau lulus ujian tersebut, dan kemudian diangkat ke langit berikutnya.

Dan begitu seterusnya hingga beliau mencapai langit ketujuh. Di sana beliau bertemu dengan seratus ribu peleton malaikat. Tiap peleton dikomando oleh satu malaikat pemegang panji yang membawahi satu juta malaikat. Semua peleton malaikat tersebut dipimpin oleh malaikat yang bernama Birya`il (بريائيل). Di langit ketujuh, Syaikh diberi oleh Allah sepasang sayap yang membentang lebih dari sejuta kali jarak antara timur dan barat. Sayap itulah yang digunakan oleh Syaikh untuk terbang menuju lautan agung, lautan yang di dalamnya bersemayam ‘arsy ar-Rahmaan.

Di tempat itulah–kalau mungkin dinamakan tempat, sebab Allah tiada berkait dengan waktu dan tempat–, Syaikh bertemu dengan Allah. Allah memberi Syaikh minuman yang diambil dari mata air kelembutan, dan dituang di gelas keramahan dan cinta. Allah dan Syaikh lantas saling berdekatan, hingga jarak pun melebur, sampai-sampai keduanya lebih dekat daripada ruh dan jasad.

Di sana juga Allah mempertemukan Syaikh dengan ruh para nabi. Ketika akan kembali ke bumi–atau lebih tepatnya kesadaran makhluk bumi–, Allah mempertemukan Syaikh dengan ruh Nabi Muhammad saw., dan beliau pun berkata, “Hai Abu Yazid, selamat datang! Allah telah memuliakanmu dengan fadhal melebihi fadhal ciptaan-Nya yang lain. Jika engkau kembali ke bumi, sampaikan salamku kepada umatku, nasihatilah mereka semampumu, dan ajaklah mereka kepada Allah”. Setelah Rasulullah saw. berkata demikian, Syaikh lantas kembali ke dirinya yang semula.

Kisah mikraj Syaikh Abu Yazid al-Busthami ini dibenarkan oleh para ahli makrifat, dan tiada dari mereka yang mengingkarinya. Mereka berpendapat bahwa, sesuai dengan hadis Nabi, ada satu ilmu yang seperti perbendaharan tersembunyi dan rahasia. Tidak seorang pun yang mengetahuinya selain ahli ilmu Allah, dan hanya orang lalai saja yang tak mau mempercayainya.

Kisah ini menegaskan kepada kita, bahwa musyahadah dan bertemu Allah, tidak harus ditunggu di kehidupan yang akan datang, melainkan dapat dilakukan dalam kehidupan kita yang sekarang ini. Caranya adalah dengan mikraj sebagaimana yang dialami oleh para wali Allah. Semoga di kehidupan dunia ini, Allah memberi kita anugerah berupa mikraj pada-Nya. Amin…

 

Sumber gambar dari sini.