Malam Absurd Para Pujangga 5

Matahari telah meninggi. Kami terbangun oleh terpaan angin khas shaifiyah dan tendangan satpam kampus yang kebetulan berpatroli di sekitar taman tempat kami mabuk dan berdzikir kekasih. Dengan umpatan dan makian, si satpam terus menendangi tubuh kami hingga sepenuhnya kesadaran kami pulih.

Sambil tertatih, aku menuntun Qais Majnun yang berjalan terseok. (Nampaknya ia yang paling keras terkena tendangan satpam. Dan memang, ia tak menghiraukan hardikan dan siksaan satpam. Duhai, adakah di dunia ini yang mampu memalingkan pencinta dari kekasihnya?). Tangannya masih memegang leher botol anggur yang tinggal satu kali teguk. Mulutnya tak berhenti menggumam. Bibirnya basah oleh satu nama yang memenuhi rongga jiwanya. Laila, Laila, Laila… Aku pandangi wajahnya, matanya. Lelehan air mata masih deras sejak semalam. Bukan air mata benci kepada keluarga Laila yang telah menistakannya –ia tak pernah sekalipun menyinggung penghinaan mereka padanya–, namun akumulasi gelegak rindu yang, sayangnya, hanya mampu terwakili oleh air mata, dan tentu saja ceracau nama Laila. Continue reading

Malam Absurd Para Pujangga 4

Kau tahu, apa yang membuat hikayat cinta menjadi menarik?

Tanyaku retoris kepada audien konferensi ‘Asosiasi Single Indonesia yang Keren’ (ASIK) dari altar sebuah bangunan yang dihiasi oleh lukisan Sandro Botticelli, ‘Nascita di Venere‘ (The Birth of Venus). Konferensi kali ini memang diadakan di tempat yang agak eksklusif dari biasanya. Dengan memajang lukisan Venus, dewi tercantik dalam mitologi Romawi, kami, kaum yang termarjinalkan dari sejarah, mencoba ngalap berkah dari karamah dewi cinta tersebut.

Kenapa bukan Aphrodite? Bukankah Aphrodite lebih terkenal dalam epos kuno?

Ah, kau terjebak pada narasi sejarah yang mainstream, Kawan. Tahu apa kau soal lukisan dewi-dewi mitologi. Continue reading

Malam Absurd Para Pujangga 3

Aku masih memikirkan dawuh guru al-Adab al-‘Arabiy, Ust. Abu al-Faraj al-Jauziy. Dawuh itu begitu menenangkan sekaligus menyindir sisi hatiku yang dalam.

Masih segar dalam ingatanku, saat pelajaran berlangsung, sambil menenteng kitab karangannya, Dzam al-Hawa (Celaan untuk Cinta), beliau mengkritik ungkapan cinta Qais Majnun yang ditujukan kepada Laila. Menurutnya, kerinduan kepada seseorang secara berlebih, dapat mengantarkan perindu pada kekafiran. Dengan dikutipnya banyak hadis, beliau menghakimi kerancuan rindu Qais.

Saat itu aku lihat wajah Qais merah padam. Entah apakah ia marah pada Ust. Al-Jauzi atas ejekannya atau malah kerinduannya pada Laila semakin bertambah. Duhai, pernahkah engkau menemukan perindu berpaling dari yang dirindunya? Continue reading